Perdamaian yang Mahal, Perang yang Menguntungkan? Jangan Alihkan Dunia dari Palestina

Jakarta – Pemuda Al Irsyad memandang eskalasi konflik Iran–Israel bukan sekadar peristiwa militer biasa, melainkan bagian dari dinamika geopolitik yang sarat kepentingan. Di tengah dunia yang belum selesai berduka atas tragedi kemanusiaan di Palestina, tiba-tiba panggung global disibukkan dengan konflik baru. Pertanyaannya: ini murni konflik, atau pengalihan fokus?
Ketua Umum Pemuda Al Irsyad, Sami Muhamad Hilabi, secara tegas menyatakan bahwa perang bukan hanya tentang peluru dan rudal, tetapi juga tentang narasi dan perhatian publik.
“Ketika dunia mulai terlalu fokus pada Palestina, tiba-tiba muncul eskalasi baru yang menyita headline media internasional. Kita tentu berhak bertanya: siapa yang diuntungkan dari perubahan fokus ini?” ujar Sami.
Board of Peace: Perdamaian yang Penuh Tanda Tanya
Sami juga menyoroti polemik terkait board of peace yang disebut bernilai sekitar US$1 miliar. Skema atas nama “perdamaian” ini, menurutnya, justru menimbulkan tanda tanya besar di tengah realitas perang yang semakin mahal dan brutal.
Di sisi lain, menurut Brigadir Jenderal (Purn.) Re’em Aminach, mantan penasihat keuangan Kepala Staf IDF, Israel menghabiskan sekitar US$725 juta per hari untuk operasi militernya.
Angka itu bukan sekadar statistik. Itu adalah angka yang menunjukkan bahwa perang adalah industri yang sangat mahal—dan bagi sebagian pihak, mungkin juga sangat strategis.
“Kita ini sedang hidup di zaman aneh. Perdamaian dihimpun dengan dana miliaran dolar, tetapi perang tetap berjalan dengan biaya ratusan juta dolar per hari. Kalau begitu, publik berhak bertanya: ini benar-benar investasi perdamaian, atau sekadar putaran anggaran dalam lingkaran konflik?” tegas Sami.
Ia mempertanyakan transparansi mekanisme pendanaan global tersebut. Jangan sampai dana yang dihimpun atas nama perdamaian justru masuk ke dalam ekosistem politik dan militer yang memperpanjang konflik.
Jangan Sampai Kita Jadi Penonton yang Ikut Bayar
Sami juga mengingatkan bahwa dalam sistem global, banyak negara berkembang yang menjadi bagian dari kontribusi internasional—baik langsung maupun tidak langsung.
Jangan sampai kita terlibat menyokong sistem, yang pada akhirnya memperpanjang konflik. Ironis kalau atas nama perdamaian, yang terjadi justru pembiayaan konflik. Rakyat dunia membayar untuk damai, tetapi yang muncul justru babak baru peperangan.
Menurutnya, publik Indonesia harus kritis dan tidak mudah teralihkan. Media global hari ini bergerak cepat menggiring perhatian. Palestina yang kemarin menjadi pusat solidaritas, perlahan digeser oleh konflik baru yang lebih “dramatis” secara militer.
“Jangan sampai kita terhipnotis oleh pergantian headline. Palestina belum selesai. Luka itu belum sembuh. Jangan biarkan isu kemanusiaan berubah menjadi sekadar tren musiman,” ujar Sami.
Perang Bukan Solusi, dan Pengalihan Bukan Jawaban
Pemuda Al Irsyad menegaskan:
- Mengecam segala bentuk peperangan yang menjadikan rakyat sipil sebagai korban.
- Menolak segala bentuk manipulasi narasi global yang berpotensi mengalihkan perhatian dari tragedi kemanusiaan di Palestina.
- Mendesak transparansi dalam setiap mekanisme pendanaan internasional atas nama perdamaian.
- Mengajak masyarakat untuk tetap konsisten menyuarakan keadilan bagi Palestina.
Dalam penutupnya, Sami menyampaikan pesan:
“Kalau perdamaian benar-benar tujuan, maka hentikan perang. Kalau kemanusiaan benar-benar nilai, maka lindungi rakyat sipil. Dunia tidak butuh lebih banyak alasan untuk konflik. Dunia butuh keberanian untuk jujur.”
Pemuda Al Irsyad menegaskan bahwa solidaritas terhadap Palestina bukan isu sesaat. Ini adalah komitmen moral. Dan komitmen moral tidak boleh kalah oleh strategi politik global.
Pemuda Al Irsyad
Tetap Fokus. Tetap Kritis. Tetap Bersama Palestina.



