Akhlak Anak: Antara Kekhawatiran dan Harapan

Oleh: Qomaruddin, S.Sos
Sebagai orang tua, kekhawatiran seringkali muncul setiap membaca berita tentang kenakalan remaja, tentang semakin banyaknya kasus perkelahian remaja, belum lagi soal minuman keras dan pergaulan bebas.
Beruntung saya menyekolahkan anak di sekolah Al Irsyad Al Islamiyyah, yang bukan sekadar namanya saja yang Islami namun juga gagasan pendidikannya pun sangat Islami. Setidaknya saya sadar masih ada lembaga yang dapat dijadikan sandaran untuk pendidikan anak-anak.
Namun apakah itu cukup?
Fitrah Anak: Benih Kebaikan yang Menanti Dipupuk
Nabi Muhammad saw. pernah bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menjadi pengingat bagi orang tua bahwa setiap anak memiliki potensi untuk menjadi pribadi yang berakhlak mulia. Bahkan pada hakikatnya, mereka dilahirkan dengan kecenderungan untuk menerima ajaran Islam.
Allah SWT. dalam Al-Quran menegaskan, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56).
Namun, Rasulullah SAW. juga mengingatkan peran orang tua dalam membimbing anak agar tetap dalam fitrahnya. Di sinilah kekhawatiran kembali muncul: Mampukah kita sebagai orangtua mendidik anak dengan baik?
Tanggung Jawab Bersama: Menjalin Ekosistem Pendidikan Holistik
Sebagai orang tua, saya mengajak masyarakat untuk peduli terhadap pendidikan anak-anak. Memang setiap anak menjadi tanggung jawab orang tuanya, namun sebagai bagian dari masyarakat tentu ada kewajiban bersama untuk menjaga kesalehan umat.
Sebagaimana yang telah Allah SWT. firmankan dalam Al Qur’an.
“Dan hendaklah ada di antara kamu ada segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali Imran: 104)
Tidak hanya itu, masyarakat muslim juga perlu menyiapkan lingkungan yang Islami bagi anak-anak. Agar anak tak hanya jiwanya yang bersih, namun anak dapat pula berinteraksi dan tumbuh bersama orang-orang yang shaleh. Lingkungan yang Islami inilah yang paling memungkinkan dapat melahirkan generasi muda Islam yang membanggakan.
Dengan demikian, membentuk generasi berakhlak mulia perlu disadari bukan sekadar kewajiban orang tua, melainkan tanggung jawab kolektif. Sekolah, masyarakat, dan pemerintah memegang peranan penting dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang holistik.
Di sinilah sepatutnya kita memahami peran orang tua dan sekolah. Memahami untuk berkolaborasi dalam pendidikan generasi muda.
Peran Orang Tua:
- Menanamkan nilai-nilai Islam sejak dini: Orang tua adalah madrasah pertama bagi anak. Yakni yang paling dekat secara emosional dengan anak dan berada di samping anak pada masa pertumbuhan awalnya. Maka peluangnya tinggi dalam menanamkan nilai-nilai akhlak mulia dalam keseharian. Ini bisa dilakukan dengan cara mencontohkan perilaku yang baik, bercerita tentang kisah teladan para nabi dan sahabat, serta membiasakan anak beribadah dan beramal saleh.
- Membangun Komunikasi yang baik: Jalin komunikasi yang hangat dan terbuka dengan anak. Dengarkan dengan penuh perhatian apa yang mereka rasakan, pikirkan, dan alami. Ciptakan lingkungan yang aman bagi mereka untuk bercerita dan bertanya.
- Menyesuaikan metode dengan usia: Metode pengajaran akhlak harus disesuaikan dengan usia anak. Untuk anak yang masih kecil, gunakan metode yang menyenangkan dan mudah dipahami, seperti bernyanyi, bercerita, dan bermain peran.
- Memberikan teladan: Anak-anak adalah peniru ulung. Perilaku orang tua menjadi cerminan bagi mereka. Pastikan kita sendiri senantiasa berusaha berperilaku sesuai dengan nilai-nilai akhlak yang ingin ditanamkan.
- Mengawasi pergaulan: Pergaulan yang baik akan membawa pengaruh positif, begitu pula sebaliknya. Adalah kewajiban orang tua untuk mengawasi pergaulan anak dan memberikan bimbingan yang tepat.
Dalam hal ini, ada baiknya para orang tua bersama-sama kembali mempelajari topik-topik parenting. Bersama-sama menyiapkan forum-forum kajian, seminar dan pelatihan tentang mendidik anak dengan cara yang tepat. Tentang bagaimana menyiasati agar pendidikan anak di lingkungan keluarga dapat optimal meskipun memiliki beragam keterbatasan.
Peran Sekolah:
Tidak kalah penting peran sekolah sebagai lembaga yang dipenuhi para pakar pendidikan. Sebagai lembaga yang mendapatkan kepercayaan dari masyarakat untuk menyiapkan lingkungan belajar yang baik.
- Kurikulum berbasis akhlak: Kurikulum sekolah harus dirancang tidak hanya menekankan aspek intelektual, tetapi juga penanaman nilai-nilai akhlak mulia. Ini dapat diwujudkan dengan mengintegrasikan pendidikan akhlak ke dalam semua mata pelajaran. Gagasan ini telah berulang kali muncul dalam beragam seminar pendidikan, namun tantangannya adalah bagaimana gagasan ini benar-benar diwujudkan di sekolah.
- Pendidik yang berakhlak mulia: Guru dan staf sekolah harus menjadi teladan bagi para siswa. Mereka tidak hanya memiliki kualifikasi akademik yang baik, tetapi juga memiliki akhlak yang mulia.
Tentu ini bukanlah persoalan mudah. Namun, sekolah yang berisi guru-guru berakhlak mulia merupakan syarat terciptanya sekolah yang kondusif bagi pendidikan akhlak. Terutama karena anak-anak akan menjadikan guru sebagai role model atau contoh dalam penerapan kesalehan dalam kehidupan sehari-hari.
- Kegiatan ekstrakurikuler Islami: Ada baiknya, sekolah menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler yang menunjang pendidikan akhlak, seperti kegiatan keagamaan, kepramukaan, dan pengembangan bakat yang Islami.
- Pembinaan karakter: Sekolah dapat secara aktif dan teratur mengadakan program pembinaan karakter untuk membangun kebiasaan dan perilaku yang baik pada siswa. Hal ini agar siswa mendapatkan bimbingan dan pembiasaan akhlak secara teratur dan berkelanjutan.
Perlu dipahami, karakter dibentuk tak sekadar dengan ceramah dan teladan. Namun juga membutuhkan praktik berulang-ulang agar anak menerima ajaran dan praktik akhlak sebagai bagian yang melekat sebagai identitas dirinya. - Keterlibatan orang tua: Sekolah seyogyanya menjalin komunikasi dan kerjasama yang erat dengan orang tua. Libatkan orang tua dalam proses pendidikan anak agar tercipta kesinambungan dan konsistensi dalam penanaman nilai-nilai akhlak.
Sekali lagi, membentuk generasi berakhlak mulia perlu dipahami sebagai sebuah perjalanan panjang. Sehingga sangat membutuhkan komitmen dan kerjasama dari semua pihak. Orang tua, sekolah, masyarakat (juga pemerintah) harus bahu membahu dalam menanamkan nilai-nilai akhlak mulia pada anak-anak.
Diantara contoh kerjasama orangtua dan sekolah dapat berupa saling berbagi informasi kondisi siswa di rumah dan di sekolah. Seperti disediakannya waktu khusus dan berkelanjutan oleh guru dan orang tua untuk mendiskusikan tumbuh kembang anak dan membahas strategi bersama dalam menyukseskan pendidikan akhlak.
Bahkan sekolah maupun orang tua dapat berbagi potensi untuk sama-sama meningkatkan peluang kesuksesan pendidikan. Misalnya orang tua dapat membantu sekolah menghadirkan ke hadapan para siswa para tokoh publik yang sukses dalam hidupnya sekaligus memiliki akhlak yang baik.
Ingat, masa depan terbentang luas di tangan anak-anak kita. Tak salah bila kita bantu mereka mempersiapkan masa depan dengan sebaik-baiknya. Diantaranya membekali mereka dengan akhlak mulia disamping ilmu pengetahuan, agar mereka dapat menjadi generasi yang membawa kebaikan bagi dirinya, keluarga, dan umat.
Terakhir, saya mengajak setiap kita untuk berdoa. Agar Allah SWT. mengabulkan doa-doa kita, terutama doa agar Allah SWT, menjaga kita dan anak keturunan untuk tetap berada dalam keimanan hingga ujung usia, dan diselamatkan dari fitnah-fitnah akhir zaman yang semakin meresahkan dan mengkhawatirkan.



