✨ Terbaru! SAI Vol 31 April 2026 telah terbit! Unduh sekarang!

Unduh
ArtikelArtikel Agama

Melekap Erat Lentera Ramadhan

Oleh : Zulina Hesti Pamungkas, Lc.

Layaknya mendamba pertemuan dengan seorang kekasih, umat Muslim nampaknya sudah tidak sabar menantikan kedatangan bulan Ramadhan yang segera akan dijumpai. “Sayyidu Asy-syuhur” adalah julukan yang khusus disematkan pada bulan yang di dalamnya terdapat ribuan hikmah serta keberkahan.
Berbicara mengenai hikmah dan keberkahan bulan Ramadhan, apa yang dimaskud dari keduanya?

Pertama, hikmah Ramadhan. Tidak sedikit yang mengatakan bahwa salah satu hikmah yang didapatkan dari puasa di bulan Ramadhan yakni melatih diri untuk merasakan rasa lapar dan dahaga sebagaimana yang dirasakan orang miskin. Lantas, apakah dengan demikian disebutkan bahwa orang-orang miskin yang sudah terbiasa kelaparan tidak diwajibkan berpuasa? Tentu tidak.

Makna sesungguhnya dari menahan rasa lapar dan dahaga adalah agar kita memaknai hakikat dari hidup yang seyogyanya tidak berlebih-lebihan baik dari segi sandang, papan, bahkan pangan. Darinya, seseorang dapat selalu merasa cukup (qona’ah) akan pemberian Allah, bersabar dari berlelah-lesu menahan lapar dan haus, serta berbuat kebajikan antar sesama manusia. Karena relasi kehidupan yang bersifat fundamental harus dibangun oleh setiap umat Islam melalui dua aspek, yaitu spiritual (hablu minallah) dan sosial (hablu minannaas). Maka kedua relasi ini harus berkolaborasi dengan seimbang agar manusia tetap berada pada fitrah yang berlandaskan pada akal sehat dan jiwa yang suci.

Selain itu, melatih diri menahan lapar dan haus juga sebagai pengetahuan bahwa seseorang apabila dalam sehari tidak makan, tidak akan menjadikannya mati kelaparan karena saking lemahnya keadaan.

Yang perlu diketahui adalah jika seseorang dalam keadaan lapar atau haus maka ia akan menjadi lemah. Dalam keadaan fisik yang lemah, maka syahwatnya juga akan ikut melemah. Lemahnya syahwat kemudian akan mengikis atau melemahkan keinginan seseorang untuk berlaku maksiat.

Beramal shalih seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, bersabar menahan lapar, haus, dan menahan amarah, yang apabila diiringi dengan menjauhi maksiat akan mendekatkan seseorang pada syurga dan ridho Allah Swt. Itulah satu dari banyaknya hikmah yang dapat diambil dari bulan Ramadhan.

Kedua, berkah Ramadhan. Kerap kali kita mendengarkan gagasan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan dimana pintu syurga terbuka lebar dan pintu neraka tertutup rapat. Substansi yang tersirat dari pernyataan tersebut terkadang masih simpang siur dalam opini masingmasing individu. Bahwa bukan sepenuhnya pintu syurga terbuka lebar, yang menjadikan pelaku maksiat bebas melakukan dosa pada bulan Ramadhan. Dan bukan pula pintu neraka tertutup rapat karena semua jin dan setan dibelenggu. Karena pada hakikatnya, bisikan setan tidak akan pernah luput dari manusia. Hanya saja mereka membisikkan perlakuan menyimpang tersebut pada awalnya, maka sisanya tergantung dari seseorang itu sendiri. Apakah hawa nafsunya akan mengikuti godaan yang didendangkan, atau keimanan serta khauf (rasa takut pada Allah) akan unggul dan mengalahkan nafsu tersebut. Disamping itu, dengan dalil shahih yang membahas tentang kelipatan pahala yang akan didapatkan ketika seseorang beramal shalih pada bulan Ramadhan akan memudahkan manusia meraup ribuan pahala. Yang menyimpulkan bahwa ribuan pahala tersebut seakan-akan menjadikan pintu neraka tertutup rapat.

Dalam kaidah beberapa ulama menyebutkan bahwa “seringnya interaksi/pertemuan, akan mematikan sensitivitas seseorang” dan itu akan menjadi petaka apabila diberlakukan setiap kali bertemu dengan bulan Ramadhan. Bahaya besar apabila seseorang menganngap bulan Ramadhan sebagai rutinitas tahunan yang dianggapnya biasa-biasa saja, tidak ada keistimewaan padanya. Maka jangan sampai kita merugi dengan melewatkan 30 hari dalam satu bulan Ramadhan begitu saja tanpa menciduk berkah dan hikmah di dalamnya. Sosok selembut Rasulullah Saw. yang ketika didzalimi oleh musuh justru membalas dengan do’a yang baik bahkan mengatakan: “CELAKA!” bagi orang-orang yang menghabiskan momentum Ramadhan dengan sia-sia.

Dalam hadits shahih beliau bersabda: “Celakalah! Bagi hamba-hamba yang memasuki bulan Ramadhan namun sampai Ramadhan itu usai dosa-doanya belum diampuni” (HR. Ahmad)

Merekalah yang melewatkan bulan Ramadhan dengan tidak berpuasa, tidak mengaji, tidak sholat tarawih, tidak tahajud, enggan berinfaq/bersedekah, serta gemar menuai perpecahan antar saudara semuslim. Padahal, segala akses dan sarana beribadah sudah dimudahkan oleh Allah Swt.

Inilah kerugian yang besar, karena sebagai manusia kita tidak dapat memprediksi apakah masih dapat menjumpai Ramadhan pada tahun-tahun setelahnya atau tidak.

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan ingin mendapatkan pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah lewat” (HR. Muslim)

Lihatlah betapa besar janji Allah pada orang yang benar-benar menjalankan puasa Ramadhannya dengan iman dan kesungguhan, yaitu akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu. Terlebih jika kita memaksimalkan sabar, ikhlas, dan istiqomah dalam menjalankan semua amal shalih. Tentu kita akan termasuk dalam kategori orang beruntung yang tidak hanya mendapat ampunan dari Allah Swt, tetapi pahala yang berlipat ganda. Dalil dari Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183 yang sudah tidak asing lagi dijumpai dalam pidato-pidato Ramadhan maupun naskah tertulis, menjelaskan bahwa puasa yang sudah
ditetapkan bagi umat Muslim akan menjadikannya sebagai orang yang bertakwa, apabila ia benar-benar baik secara lahir batin dalam mengamalkan kebajikan di bulan Ramadhan.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”

Imam Ibnu al-A’rabi dalam kitab Ahkamul-Qur’an menjelaskan frasa “La’allakum tattaqûn” (agar kalian bertakwa) dalam ayat tersebut. Beberapa ulama tafsir membagi makna tersirat dari kalimat tersebut menjadi tiga opini:
Pertama, yang dimaksud dengan “La’allakum tattaqûn” adalah “La’allakum tattaqûn mâ harrama ‘alaykum fi’lahu” (agar kalian terjaga dari perkara-perkara yang Allah haramkanatasmu).

Kedua, maknanya adalah “La’allakum tudh’ifûn fa tattaqûn” (agar kalian menjadi lemah lantas kalian bertakwa). Yang dimaksudkan adalah apabila seseorang sedikit makan, maka fisiknya akan menjadi lemah. Jika fisiknya melemah maka nafsu dan maksiat juga turut melemah (seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya).
Ketiga, artinya yaitu “La’allakum tattaqûn mâ fa’ala man kâna qoblakum” (agar kalian terjaga dari perbuatan yang dilakukan orang-orang sebelum kalian; Yahudi dan Nasrani).

Kesimpulan dari “bertakwa” adalah harapan agar umat Muslim menjadi lebih suci lahir batinnya karena terjaga dari hal-hal yang tidak sehaluan dengan ketentuan Allah Swt. Sudah menjadi keharusan bagi kita untuk membabarkan hikmah dan berkah Ramadhan, yaitu dengan meningkatkan amal shalih yang biasa dilakukan agar menjadi lebih kuat pula kualitasnya.

Seperti hal nya sholat fardhu, maka akan lebih sempurna jika diiringi dengan sholat rawatib sebelum atau setelah shalat fardhu. Allah Swt. menjanjikan sebuah rumah bagi seseorang yang merutinkan shalat rawatib dalam kesehariannya. Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa melakukan shalat (sunnah) dua belas rakaat dalam sehari semalam niscaya akan dibangunkan baginya sebuah rumah di syurga” (HR. Muslim)

Akan lebih baik apabila kita sebagai umat Muslim memaknai datangnya bulan Ramadhan ini dengan penuh kerelaan dalam beribadah. Tidak hanya sholat fardhu, namun juga sholat sunnah. Tidak hanya membaca Al-Qur’an, namun juga mentadaburi tafsiran setiap ayatnya. Tidak hanya berdo’a selepas sholat, namun senantiasa membasahi lisan dengan dzikir kepada Allah Swt. di setiap kesempatan, baik saat luang maupun saat sempit.

Sudah menjadi hukum alam bahwa umat Muslim akan memaksimalkan ibadahnya saat berada pada bulan Ramadhan, kemudian kualitas ibadahnya sedikit demi sedikit mualai terkikis saat tidak lagi berada di bulan Ramadhan. Seharusnya, atmosfer Ramadhan yang memengaruhi majunya kualitas beribadah tidak boleh lenyap untuk selamanya. Maka persiapan harus digancangkan agar sempurnanya kualitas ibadah tidak lepas dari setiap individu umat Muslim. Yaitu dengan membiasakan diri untuk senantiasa beramal shalih.

Seseorang yang terbiasa menjadikan ibadah sebagai kebutuhan akan membuahkan kebiasaan yang baik dan pada akhirnya akan terus menguatkan kualitas ibadahnya di setiap masa, bukan saat Ramadhan saja. Demikianlah esensi memaksimalkan ibadah yang berkualitas, untuk meraih Ramadhan dengan totalitas.

Penulis adalah Kepala Bidang Bi’ah Islamiyyah Putri LPP Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button